Meninggalkan beberapa teman yang melunasi kewajiban pada realitas mereka, kami berangkat ke pantai Sadranan yang berada di daerah Wonosari. Dengan peralatan yang telah disiapkan matang matang, seperti tenda, makanan, pakaian, tekad dan bendera tentunya :p.
Sabtu 9 Agustus, pukul 14.00 kami berkumpul di Burjo Maknyus yang masih tutup karena gembok lebaran, tapi berkumpul disana ibarat memakmurkan masjid haha. Dengan intrik muda mudi pada hari - H seperti menunggu kawan datang, pengekfetifan kendaraan dan penggenapan peralatan yang bla bla bla saya males ngetiknya haha, kami naik 7 motor dengan hikmat. Alhamdulillah perjalanan 3 jam berjalan tanpa hambatan. Hanya pantat saya yang berkurang volume lemaknya karena guncangan, aku mulai berpikir ini body buider yang cukup baik dengan menaruh bagian yang berlemak di jok. Seperti tidur dengan perut sebagai penopang sepanjang perjalanan niscaya six pax akan menghampiri Anda, mari cobalah.
Membayar 10 ribu/orang kami memutuskan untuk negosiasi, dan proses korupsi ini melibatkan saya dalam action.
Saya (S) : Pak wong 14 piro?
Pak e (Pe) : 140 mas
S : Iso kurang ra pak?
Pe : 90 wae
S : 80 pak
Pe : mangsane iki bayem mok nyang nyang, matamu tak dedel kene tak dol neng dark net!
S : ojo pak ojo, aku durung kawin, ojoo...
Pe : *nyongkel moto (ketawa jahat) back sound e canibal corpse
Mati
Tapi ternyata 14 tiket yang sudah di staples tadi dikurangi 5 dan otomatis harga turun karena 5 orang dalam rombongan kami berstatus haram :( hahaha
Sempat di pungli juga, salah jalan pula. Tetapi rintangan itu tak cukup berarti karena apa yang akan kami kerjakan nantinya berjuta ton of joyy.. yeee... uhhhh...ciyatt.... awihapsjdpajfdapsfjh...
Man teman sedang memilih tempat yang cukup landai dan tak ter terjang ombak pasang nantinya, cahaya yang sugoi dan udara yang acc tanpa revisi membuatku berpikir bahwa suga itu adalah pikiranku sendiri yang berada pada puncak kedamaian.
Angin cukup kencang, dan sedikit sulit untuk mendirikan tenda.
Dan matahari menggeliat ke bagian bumi yang lain, bulan yang sedang tampil maksimal menerangi kami yang sedang bercengkrama di sekeliling api unggun. Udara belum cukup dingin tetapi angin cukup merepotkan. Sosis mulai dibakar di perapian, dan andalan bangsa kami Indomie sudah mencicipi siksa di air panas sebelum dicabik cabik mulut, dicerna dengan asam dalam lambung dan dikeluarkan dalam keadaan chaos karena tidak ada unsur serat. Siksaan itu karena statusnya yang nikmat, fase fase yang mengingatkanku akan azab :( ahahaha
Api belum juga mengecil, suplai kayu bakar terus digenjot. Tubuhku memohon izin kepada kesadaran agar mengistirahatkannya sejenak. Sekedar mengembalikan lemak bokong yang hilang saat perjalanan. Aku bobok dulu sebelum man teman...
Pagi tiba, tanpa satupun nikmat yang kudustakan. Fase siksaan Indomie sudah pada tahap output yang chaos. Aku harus mencari toilet...
Tahap berberes beres, sebelum mencicipi asinnya keringat ikan...
![]() |
| Biwa Bondan Dara Dean Desi Faisal Gesa Iwan Rahmat Regar Reza Rio Wiro |
Sungguh sugoi pengalaman ini. To all my beloved friend thanks for all the moments. Kecup klebus...









