tak lebih dari sekedar nalar

Perdana, aku harus konsisten untuk kedepannya

Sabtu, 31 Mei 2014

     Jumat tanggal 29 Mei lalu adalah hari pembukaan pameran dari teman teman YK LOGOS yang bertajuk "Weekend Ritual". Sebenarnya aku tak mengira akan ikut serta karena karakter menggambarku yang sama sekali tak Street Art dan juga aku tak mempersiapkan tema yang memadai. H minus 2 aku bertemu Reza Kutjh secara kebetulan di warung burjo depan rumah dan tiba menawarkan untuk ikut serta. Hari itu juga aku harus submit karya sementara gambar terakhirku belum selesai, atau bisa dibilang 80 persen. Sebenarnya ada banyak karya yang belum dipublikasi tetapi aku merasa pendewasaan karakter menggambarku hampir sempurna pada gambarku yang terakhir ini. Hanya butuh elemen elemen pelengkap saja yang tak kunjung kutemukan.
     Akhirnya hari itu kuselesaikan semampuku dan kuantar malamnya ke rumah Emen yang sekaligus empu dari pameran ritual akhir pekan tersebut. Karena tak punya pigura terpaksa aku harus meminjam dari Emen juga (ra ragat blas haha). Ini adalah pameran pertamaku dengan gaya gambar yang akan kupertahankan, aku harus mulai konsisten dan berjalan stabil. 
     Karena aku merasa berhutang banyak untuk kesempatan ini, kusempatkan untuk membantu display karya, walaupun tak banyak membantu sebenarnya haha. Terimakasih untuk teman teman YK LOGOS, you guys rock!






Teruntuk: Pertanyaan yang kujawab sendiri

Senin, 26 Mei 2014

     Pikiranku selalu mengajukan pertanyaan atas apa yang terjadi di sekelilingku, dan aku harus membujuknya paham dan puas dengan jawaban yang kubuat seadanya karena ya memang begitu seharusnya. Hatikupun harus puas dengan jawabanku, yang juga seadanya. Karena basic dari jawaban itu untuk meredam keresahan, masalah ataupun stress yang berkepanjangan. Seperti mantra pengusir hantu, padahal hantu hantu itu tak pernah hilang. Seperti kadang aku membuat statement "Aku akan membuat kesempatanku sendiri bila memang tak ada", stimulan yang cukup baik untuk beberapa hari kedepan sebelum di injak injak realitas. "Siapa yang butuh pacar, aku punya banyak teman bla bla bla" dan tak berselang lama fuckedup haha. Kadang aku membuat konsep konsep pelarian yang semu, pembenaran pembenaran yang menjinakkan hati dan pikirku sesaat. Pada dasarnya aku sudah berusaha. Aku merasa beruntung, dan merasa sial di sisi yang lain. Aku hanya perlu bersyukur (stimulan dosis dogmatis haha). Seperti pepatah, jika tidak ada pundak untuk bersandar, masih ada lantai untuk tepar. Aku adalah prototype dari remaja abad iniiiiii.. hahaha... yang fuked up tentunya.

Let me sing and slowly sink





Landscape that looked bright
Got rough like a battlefield before I knew it.
I've been singing a sad song since I lost my way.
Dreaming of the day when the pieces of me come together...

Let me cry again.
Let me recall how to cry.
Where's my mind that's trying to be honest?

I wish you would listen to my request if you can hear my voice.
Oh Jupiter! Let the rain fall and wash my dirt away...