tak lebih dari sekedar nalar

Memories

Selasa, 29 Desember 2015


     Ingatan adalah hal yang akan membuatmu ingin hidup seribu tahun lagi atau mati sesegera mungkin, begitupun lupa adalah bencana dan anugerah yang saling menempel satu sama lain seperti dua sisi kartu. Kita semua tak dapat menginkarinya, kodrat yang harus di siasati. Aku bukan pengingat yang baik, bukan spons yang dapat menyerap air sesegera mungkin. Molotov dengan sumbu yang terlalu panjang, tidak terlalu efektif namum tetap membakar. mungkin.
Proses belajarkupun terbilang bertahap, pertama lewat mengenal, lalu kedua merasa seperti pernah mendengar / membaca / bertemu, lalu hafal, setelah itu disusul pemahaman. Lumayan membutuhkan proses, namun menurutku cukup efektif ketika aku mulai membandingkan hal aku dapat menelaahnya secara spesifik.
      Ingatan adalah ilmu, ingatan adalah referensi, ingatan adalah reflek, ingatan adalah hantu, ingatan adalah penuntun. Untuk menyiasati efektivitas dalam media penyimpanan otak, ingatan yang masuk harus di seleksi dengan memberi label. Misal ini adalah ingatan yang akan membantuku untuk terus maju kedepan, oh! ini ingatan yang pantas di buang karena menghambatku untuk maju kedepan.
Dalam bersiasat demikian basicnya kita harus mengenal diri kita terlebih dahulu, mengenali pola, tingkah laku kebiasaan. Sehingga dalam membuat program program siasat tidak crash / compatible.
Dalam kurun dua / tiga tahun kebelakan aku mengalami sebuah titik dimana sistem diri dan lingkungan bertabrakan, menghasilkan tekanan mental yang cukup dasyat. 
Kala itu pengumuman kelulusan, sebuah perusahaan desain grafis menggandengku untuk berperang. Untuk masalah skill dan komunikasi tidak ada masalah, namun aku bermasalah dengan pikiranku sendiri, atittude yang terbentuk lewat tulisan tulisan Anarkis yang kubaca dalam dosis harian. Dalam tekanan kerja yang tinggi, upah yang minim, aku merasa seperti di tindas. Bertabrakan dengan tulisan tulisan Anarkis, bertabrakan lagi dengan kebutuhan hidup, pikiranku yang sempit mengantarkanku pada gerbang stress yang megah.  Pemberontakanku semakin hari terasa semakin tidak relevan, aku merasa kecil dan tak berdaya dalam sistem kapital yang besar.

     Namun seiring berjalannya waktu, puzzle-puzzle melengkapi dirinya sendiri. Waktu memang obat paling mujarab. Banyak hal hal yang tidak dapat dipaksakan, aku harus melihat dalam diriku dulu sebelum melakukan tindakan keluar diri yang gegabah. Satu persatu aku berdamai dengan diriku sendiri. 

Run, rabbit run.
Dig that hole, forget the sun,
And when at last the work is done
Don't sit down it's time to dig another one.


For long you live and high you fly
But only if you ride the tide
And balanced on the biggest wave
You race towards an early grave. 


( Pink Floyd - Breathe )

bait ini mengingatkanku pada proses peperangan dengan diriku sendiri. Ketika aku mampu berdamai dengan satu masalah, masalah yang lain akan datang. Dan ini adalah kodrat yang akan terus aku pegang. karena aku tau, aku diberi sebuah "hal" dengan alasan yang belum aku ketahui dan itu adalah kapasitasku untuk melewatinya. Seperti kata Bruce Lee "Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one". Kita akan terus bergerak maju.

Random Mixtape for Random Love Life #5

     Di penghujung desember ini begitu banyak momen yang ingin kurangkum dalam bentuk paragraf, namum kesempatan dan mood sedang tidak begitu bersahabat. Masih menyandang status freelance atau serabutan, terus berkembang adalah jalan keluar yang mengantarkanku entah kemana. Konsep konsep jati diri mulai terbentuk, untuk memaklumi hal dan mensyukuri hal. Menerima keadaan pun perlu belajar, aku tak pernah berdamai dengan keadaan. Peperangan spiritual yang kuhayati sungguh sungguh, aku merasa Tuhan merencanakan susuatu yang besar, aku hanya perlu bersabar.
     Seperti biasa, 5 nomor acak yang mewakili pengembaraan diri, pada usia ke 22 tahun, aku masih percaya pada keajaiban...

1. Procol Harum - A Whiter Shade Of Pale



2. True Widow - Skull Eyes
  


3.  Peter Bjorn and John - Young Folks



4.  Pink Floyd - Speak To Me / Breathe



5.  King Crimson - 21st Century Schizoid Man

 

Visualorama

Jumat, 04 September 2015

Adrenaline

Dopamine

Serotonin


Hormon adalah narkoba yang diproduksi secara otonom, perang yang paling besar setelah perang badar. Menjadi favoritku

Pementasan Alam Baroque nan Reflektif

Selasa, 16 Juni 2015

     Berbagai macam hal yang berbau psychedelic sedang kugali dengan intens belakangan ini, berbau spiritual dan artistik. Mulai musik, gambar, hingga psilocybe. Tulisan ini akan menceritakan trip terakhir yang kualami. Badai terkuat yang melanda kemapanan berpikir dalam struktur otak. Tepatnya seminggu kemarin setelah dikecewakan oleh "sihir" dari Jakarta yang berbentuk crispy, kami diberi info oleh salah satu teman kami yang memiliki sihir dari gajah dalam bentuk jus. Satu botol minuman tanggung membuat warga sekampung geger karena 3 dari 9 orang pulang dalam keadaan lost control. Berteriak dan melepas pakaiannya haha. Dalam posisi ini nawaitu dan kewarasan harus on track. Cukup menantang bagiku dan akhirnya dibelilah botol jus terakhir sihir gajah tersebut.
     Hari-H, pukul 10 kami meluncur ke arah selatan kota untuk eksekusi, terakhir kejadian di luar ruangan kami mengalami bad trip yang memalukan. Membeli air degan kemasan untuk menetralisir, sebenarnya efeknya akan bagus ketika perut lapar. Tetapi untuk yang satu ini aku beri pengecualian, sihir Gajah berbeda dengan sihir Sapi. Dalam test drive aku harus se aman mungkin. Makanan urban Indonesia pun disantap, Indomie. Untuk memberi fondasi dalam lambung, aku tak mau begitu kenyang. Salah satu teman kami yang penasaran untuk mencoba, sebenarnya aku tak menyetujuinya sebelum dia punya ilmu yang cukup untuk mengetahui apa yang akan di alami. Tetapi 2 orang yang berjaga sepertinya cukup baik untuk situasi ini.
     Dituang seperempat gelas lalu diputar secara bergilir, lupa membeli soda membuat rasa jus ini mengerikan. Tetapi aku tak memperdulikan itu, ini masalah result. Setengah jam berlalu, indikator pertama dalah tengkuk yang menjadi berat, lalu sedikit menggigil. Jam berlalu kami semakin dikuasai, dada serasa berongga. Bagi yang merasa lapar, menahan buang air besar akan terasa mengerikan. Pada sihir Gajah ini yang terasa dominan adalah impact di badan, bukan vision. Badan terasa sangat lemas dan perasaan terasa campur aduk. Aku tak melihat banyak distorsi pada penglihatan, tetapi pikiran dan perasaanku berkecamuk seperti tsunami!
     Musik yang seharusnya terdengar megah tak kuhiraukan, Trentmoler, Pink Floyd berlalu tak se catchy biasanya. Aku tenggelam dalam kecamuk pikirku sendiri. Aku duduk di sudut ruangan, sedikit nausea, efeknya mulai bekerja. Kukira ini sudah mencapai puncaknya.. karena aku sudah hilang dari dunia, aku benar benar masuk dalam alam yang sangat luas. Seperti Dalam bar Eropa yang menjual wine mahal, lampu yang remang dan interior batu bata expose yang cantik. Namum bergerak melingkar, aku tak tau harus menjabarkannya seperti apa karena elemennya terlalu banyak. Kata kata dari dalam diriku mencuat,
"Apa yang tak dapat dilakukan oleh manusia, tak ada yang mustahil"
Kala itu aku melihat dimensi yang tak terbatas, gelap. Tak seperti biasanya. Aura dalam trip ini berisi elemen elemen yang lebih berat dari sebelumnya.
Aku memasuki alam Keraton sekarang, pusaka pusaka dan arsitektur yang sangat detail. Aku merasa sangat terharu diperbolehkan masuk ke dalam alam keraton yang megah. Keindahan dalam detail detail yang extrim. Aku tak pernah terbayang hal hal macam itu, dan ini cukup mengagetkanku bagaimana detail detail pusaka dan dekorasi itu dapat terbayang. Apakah aku akan kemari lagi, pikiranku menuai pertanyaan. Efek semakin keras, ternyata ini belum puncaknya!
     Pukul 1 malam, aku masih terduduk di kursi. Mulai merasa takut sampai kapan ini akan menanjak. Karena rasanya badanku mulai melemah. Stimulasi ini sungguh terlalu kuat. Vision dalam kepalaku berganti kecamuk, aku ketakutan. Permasalahan dalam kehidupan sehari hari mencuat keatas. Aku merasa ingin mengakhirinya. Aku berjalan menuju meja, menenggak air kelapa kemasan yang terasa seperti hampa. Kembaliku duduk di kursi dengan pikiran yang kacau, perutku terasa sangat panas.
Kata kata yang selanjutnya muncul sungguh diluar dugaan...
"Aku menciptakan alam ini tidak lain agar kau tau jika Aku dapat melakukan apapun. Ilmu yang kau punya hanya sekecil kuku kelingking. Kau boleh datang kemari sekali tapi bukan untuk rekreasimu. Tapi untuk mensyukuri nikmat Ku. Bahwa tak ada yang mustahil bagiKu"
 Aku terdiam begitu lama, pikiranku sudah cemerlang. Hanya badan yang masih terasa distorsi. Teman teman yang lain dalam posisi yang sama sepertiku. Kecuali 2 orang yang nawaitunya naggung. Satu orang menggigil dan satunya lagi kebingungan apa yang terjadi pada dirinya. Dalam posisi ini mereka harus diingatkan posisinya. Jika mengalami disorientasi berkepanjangan akan menjadi bad trip yang mengerikan, atau direnggut kesadarannya.

     Statistik dalam trip ini seperti segitiga yang ujungnya tak nampak. Aku tak tau dimana ujungnya karena terasa menanjak terus. Tidak seperti Sapi yang halus. Ini terasa begitu cepat. Elemen yang mencul juga gelap, tidak ada vision geometris yang intens. Distorsi banyak terjadi di tubuh dan perasaan. Terkesan seperti dibuai di awal, lalu di ancam pisau di akhirnya. But at all, ini pengalaman yang menabjubkan. Refleksi yang sesungguhnya. Untuk 2 orang yang menjaga kami saat tak berada di tempat dan sangat merepotkan. Thankyou

Random Mixtape for Random Love Life #4

Senin, 16 Maret 2015

Hello there, akhir akhir ini susah sekali mengatur jadwal. Mengingat banyak posisi baru yang kusandang. Memaksaku agar cepat menempatkan posisi dalam skala efektivitas yang tinggi. But anyway, let's just sing and face the world. Seperti biasa, 5 band yang intens menginjeksi telinga. Sepertinya kecenderungan musik saya sedang condong ke suatu arah. Karya gambar saya juga mulai condong ke satu arah, keping keping saling melengkapi. Pun aku berharap seseorang di sana dapat melengkapi keping ini. Here we go!

1. DIIV - Oshin (Subsume)
    Salahsatu dari lagu DIIV yang paling berkesan karena telah menyelamatkan saya dari bad trip psylocybe. Aku mendengar setiap tone dan pecahan nada diiringi putaran geometris dengan banyak mata dimana mana. Dalam lethal dose yang merenggut kesadaran, lagu ini mengembalikan saya pada posisi semula. Terbaring di kasur hingga pukul 3 pagi. 



2. The Smiths - Please, Please, Please Let Me Get What I Want
     Banyak lagu The Smiths yang merepresentasikan banyak kejadian dalam hidup saya, terlalu banyak mungkin hahaha. Salahsatu lagu terpendek dalam renungan yang terlalu panjang.



3. Alvvays - Adult Diversion
    Begitu mendengar lagu ini aku langsung in love dengan sound nya, suara vocal yang halus dan terkesan teenage dalam lirikal. Membuatku merasa selalu muda haha


4. Yuck - The Wall 
    Lagu yang menjadi soundtrack setiap pagi ketika mengantar ibu ke pasar, menuju selatan dengan dengan embun yang terlihat layak filter fade VSCOcam haha. Sing along sepanjang jalan dengan nada yang catchy. Tryna make it through the wall,  You can see me if you're tall, Looking over... direpetisi tanpa bosannya..


5.  Craft Spells - Komorebi 
     Matahari belum sepenuhnya nampak, cahayanya yang putih di distorsi atmosfer menjadi kekuningan menggusur warna biru di sekitarnya. Aku duduk menatapinya sembari menunggu ibu berbelanja. Syahdu suara flute atau apa itu menyeruak halus. Sungguh syahdu *malahpie



Selamat menjalani hari, love you

Berharap Waktu Berhenti Berputar

Senin, 02 Februari 2015

Kuterbawa suasana Nikmati gerak bibirmu cerita Larut dalam gelak-tawa Berharap waktu berhenti berputar Beberapa jam saja, semoga

      Bait lirik terakhir dari lagu Morfem tersebut menjadi doa yang dipanjatkan, tak hanya olehku. Pun untuk banyak orang berharap hal yang sama. Pada momen yang ingin mereka kristalkan. Monumen megah yang dibangun dengan neuron. Tapi karena pada dasarnya juga waktu adalah sebuah hal yang mutlak, yang paling nyata. Maka utopia waktu yang freeze itu kita ganti dengan orbit. Bulan dan matahari, poros dan satelit. Ya, kita adalah sebuah orbit. Yang menungu waktu adar berpapasan. Dan dalam prosesnya kita banyak menggunakan lubang cacing sebagai siasat. Ampuni kami.
      Dasar dari kata pengharapan juga menjadi alasanku untuk hidup di keesokan harinya. Untuk melihat kejutan yang akan datang pikirku. Aku harus hidup esok hari. Untuk momen momen yang akan kita kristalkan.

Salam, dariku yang tak dapat menawarkan apapun selain penghargaan atas hidup.




Intermeshun

Senin, 12 Januari 2015


Meretricious And Happy New Year


     Sherlock menganalisa mayat dengan sebegitu detail dan telatennya, sementara Dr. Watson dan Inspektur Lestrade menanti konklusi dari Sherlock sembari menebak nebak kesimpulan apa yang ada di dalam pikiran seorang Sherlock Holmes. Selesai Sherlock menganalisa, giliran Watson yang mencoba membaca mayat tersebut. Dan semua yang dikatakan Watson atas observasi mayat itu terlalu biasa menurut Sherlock, dia malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Lestrade sewot menanti informasi apa yang di dapat oleh Sherlock setelah analisa tersebut. Sherlock pun  mulai menjabarkan apa yang terjadi pada mayat tersebut, dari kondisi fisik hingga pakaian. Sebuah pernyataan yang tak pernah terpikir oleh orang lain mungkin. Selesainya menjabarkan, muncullah kata dari Watson seperti biasa, pujian yang selalu  Sherlock apresiasi karena hanya Watson seorang lah yang bisa menghargai konklusi sherlock yang mind blowing.

Dr. Watson  : Excellent!
Sherlock : meretricious *sahut Sherlock*
Inpectur Lestrade : and happy new year.. *cletuk Lestrade*

     Tidak ada tawa samasekali dalam scene lawakan tersebut, tetapi mendengar percakapan tersebut pikiranku langsung melesat jauh. “Meretricious ( hal yang kelihatan indah namun tak berharga)” dan “happy new year”, keindahan yang tidak berharga dan awal tahun. Aku merasakan sebuah aura yang lain dari penggabungan kata tersebut. Sebuah kehilangan esensi yang tajam, sebuah kemegahan yang dibangun dari gelembung soda dan sendawa. Menukik jauh ke bawah layak merpati pos yang telah sampai pada alamat tujuannya, menilik diriku sendiri yang terbang tinggi diangkat angan dan khayal. Akhir akhir ini malah dihantui berbagai macam hal. Tahun yang baru dengan masalah lama yang belum ter-solving secara clear. Atau memang aku membawa utopia tahun lalu yang seharusnya sudah luntur hanyut besama penghujan Desember?.  
Tetapi utopia itulah yang terkadang membuatku tetap merasa hidup, seperti cerita dalam film film Mizaki yang menawarkan mimpi, imaji. Mereka tak pernah menua dan tetap hidup. Pun aku yang telah mengorbit selama 21 tahun. Baru tahun tahun terakhir ini merasa sadar dan waras. 

     Aku tak pernah terdidik secara yang benar benar dituntun cara melakukan ini dengan begini, stepnya begini. Terutama dalam keluarga yang bisa dikatakan kurang referensi. Maksudku kurang referensi adalah dengan keterbatasan pendidikan / ruang lingkup pergaulan / sudut pandang. Jika aku berbicara mengenai posisiku dalam realitas mereka tak akan mengerti, karena jawaban klasik seperti "aku juga pernah muda sepertimu", tapi relevansi jaman telah banyak berubah, coba analisa dan komparasi elemennya. Bagaimana laju jaman kala itu dan abad ini. Jika mengatakan hal yang sudah pasti dan terlewat siapa yang tidak bisa? aku tak pernah menuntut apapun karena aku mengerti posisi mereka. Aku juga berharap mereka tak menekanku dalam berbagai hal. Aku hanya ingin dimegerti posisiku. Disinilah nilai referensi itu dipertanyakan dan ketakutanku mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi. Seperti bagaimana masa depan, bagaimana peningkatan kualitas, bagaimana cara tetap relevan. Aku mulai curiga kesalahpahaman nilai "pasrah" dan "tawakal". Mendengarkan mamah Dedeh tiap pagi hanya akan semakin menuntutku melakukan banyak hal. Aku tak melihat perubahan yang signifikan. Aku mempunyai perjalanan suciku sendiri, perang yang tak terlihat.

     Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya aku yang terlalu rewel karena terlalu banyak melihat referensi. Paling tidak aku mengeri jika dunia adalah sebuah buku dengan halaman yang sangat banyak. Aku membaca sifat dan pernak perniknya. Dan jika tinta yang digunakan untuk menuliskan takdirku sudah habis dan tak ada sisa untuk membenahinya. Aku hanya perlu berdansa di atasnya. Setidaknya stress yang membuatku terjaga adalah anugerah pula. Dan semua hal yang menguatkanku adalah mukjizat. Aku hanya harus terus berjalan, walau kadang lupa dengan statementku sendiri dan harus memukuli mukaku sendiri sebagai hukumannya. Tidak ada yang menang dan kalah, jika memang posisinya begitu. Kita hanya perlu saling menghargai posisi. Bukankah roda yang berputar itu sebuah kepastian? persepsi waktu yang menjadi hantu, maukah sesekali kau berdansa denganku?