tak lebih dari sekedar nalar

Random Mixtape for Random Love Life #3

Kamis, 18 September 2014

     Hello, bertemu lagi di sesi rungon rungon, lelaguan yang sedang hits menemani hari demi hari yang fluktuatif. Sebenarnya akhir akhir ini lagi demen banget psychedelic dan stoner. Tapi biar variatif kali ya. Berikut lima band, seperti biasa. Akan disajikan dengan sangat apa adanya karena band sudah menjadi sebuah ikon. Tak perlu penjelasan lebih lanjut (padahal karena keterbatasan pengetahuan untuk penjabaran) ya boleh lahhhh... So here we go!

1. The War On Drugs - Red Eyes
 Chillin as fuck, satu album depresan yang membuatku jatuh hati <3



2.  Empire! Empire! (I Was a Lonely Estate) -  I Was Somewhere Cold, Dark... and Lonely
Kesedihanku mendapatkan perhatian dengan lagu lagu seperti ini, trimakasih kawan. Walau aku hanya mendownloadmu :(


3. Motorama - Ghost
Album pertama dari band post punk asal Russia (Alps 2010), nemu nggak sengaja waktu liat tutorial coloring di youtube. Langsung jatuh cinta aja sama sound-nya. Tiba tiba inget David Bowie yang isi suara Joy Division Love Will Tear Us Apart. Memoriku terseret jauh uwoohhh..



4. Sleepy Sun - White Dove
Pengen tripping tapi haram :(

   
5. Mars Red Sky - Marble Sky
 nak nak...


Trippy Trippy Trap #2

Selasa, 16 September 2014

     Bulan Juni kemarin saya mendapat kupon geratis ke Gembira Loka karena promo di tempat biasa aku cetak digital. Per Rp.250.000,- mendapat satu tiket gratis ke Gembira loka. Karena saya habis satu juta lima ratus saya dapat 6 tiket. Tetapi dengan nota yang dibagi 6 agar per nota dapat 1 tiket. Lumayan ribet juga, tapi demi efisiensi tak apa lah haha. 2 Tiket diminta oleh pegawai yang mau mengajak anaknya menonton pinguin. 4 tiket tersisa dengan tulisan expired 0 September. Ya, ini adalah kesempatan yang bagus mendengar isu isu kalo kebun binatang tersebut telah direnovasi dan ditata sedemikian rupa hingga terlihat baugus dan menarik hati. Terakhir kali kemari aku masih berstatus siswa Taman Kanan Kanak dalam acara lomba menggambar, dan sekarang aku kembali dengan status siswa realitas berumur 20 tahun, tak banyak yang ku ingat selain kencing di dalam gua dinosaurus nan gelap dan pesing. Ingatan yang buruk.

     Kami berangkat ber-4 karena teman teman tak banyak yang bisa ikut, atau bisa dibilang tiket gratisannya hanya ada 4. Malaikat yang pas pasan. Tak banyak mengantre, tiket langsung disobek penjaga gerbang, merenggut nilai virginitas yang kujaga selama tiket berada di dalam dompet. Wow, banyak yang berubah, management yang berkerja keras sepertinya menata dan merenovasi tempat ini. Kami disambut boneka pinguin yang cukup  besar, dua buah jumlahnya.

Resza sedang menaklukkan pingun yang bermutasi
     Berjalan ke arah selatan, menuju entah berantah karena kami buta pada pemetaan baru ini, melewati jembatan kecil. Kapal yang berada di tengah tengah danau buatan dipugar sepertinya. Tak mengecewakan, area cukup bersih. Kami mendengar bahwa taman reptil dan burung adalah yang menjadi unggulan, sembari berjalan aku menerawang jauh pada sudut pandang masa kanak kanak dulu. Entah apa yang kupikirkan saat itu, apakah kesenangannya setara dengan hari raya? aku mulai menebak nebak dan menempatkan diriku disana. Di alam ingatan yang dalam.

Orang Utan, dengan kandang barunya
Rusa sadar kamera, meminta filter yang vintage

     Hewannya tak banyak berubah, buaya, babi rusa, orang utan, macan, monyet. Tetapi ada yang berkurang malah. Beberapa kandang kosong. Taman reptil, kami sampai disana. Destinasi sedari tadi, berbagai macam ular, katak, dan kadal menghiasi di sisi kanan kiri berikut penjelasannya. Aku terlalu sibuk mengagumi dan membaca hingga tak sempat memotret reptil dan icon taman reptil. Wanita yang menggendong ular, cukup syahdu. 
Keluar dari taman reptil kusempatkan makan di warung dekat taman burung, mencerna ratusan satwa memasukannya kedalam database cerebro membutuhkan banyak energi. Aku kelaparan.
Teman teman yang lain juga terlihat mletho, kami makan dengan khidmat. Resza yang phobia pada unggas mulai waspada. Cukup sugoy dan kawaii, tatanan tempat dan kelokan jalannya bersahabat untuk di susuri. Lelah yang hinggap di kaki kami malah kualahan, kami terus berjalan sementara rasa lelah sekuat tenaga mencoba menghentikan kami. Senjakala perjalanan ini bermuara pada icon yang yang di gembar gemborkan, Jack the penguin yang sepertinya memakan gaji buta, banyak hewan yang memakan gaji buta disini. Tidur. Atau sudah habis waktu kerja mereka, sekarang pukul 16.00. Jam kerja mereka habis(?).

Hingga pada akhirnya kami tak tega melihat lelah mengemis, kami beristirahat sekeluarnya dari taman burung. Melihat kudanil yang katanya pernah memakan korban. Aku tak tau juga, cerita ini sepertinya turun temurun disini.

Kudanil berada di ujung kolam, enjoy berendam
     Memutuskan untuk pulang sepertinya tidak cukup berat kala itu, mengingat waktu sudah sore. Berjalan pelan sembari berceloteh kesana kemari. Kami akan kembali lagi besok, besok kapan ya? 10 tahun lagi mungkin(?). Yang jelas kami mengalami nostalgia yang sama, membayar ingatan ingatan yang belum genap. 





Intermeshun


Same shit different day #1

Minggu, 07 September 2014

     Akhir akhir ini aku sedang tidak ingin banyak bicara, mungkin aku akan selalu terlihat antusias karena aku akan menjadi pendengar yang teladan, sebisa mungkin menjauhkan topik pembicaraan tentang masalah masalah klasik yang sedang merundung. Ketika orang membagi sesuatu untuk dipecahkan atau mengurangi beban itu memang efektif, tapi untuk kali ini sama sekali tidak. Mencoba menyusun puzzleku sendiri, menggenapi bagian bagian yang tercecer entah dimana. Pertanyaan dan jawaban, perjalanan dan tujuan.
Pertanyaan lullaby menjelang lelap akan memainkan nada yang sama "apa yang akan datang esok?", hati dan pikiranku menerawang jauh menari dalam imaji semesta yang terlihat seperti opera sabun di pikiranku. Membayangkan yang seharusnya terjadi akan lebih mudah, andai realitas bisa diajak berkompromi. Sementara posisiku sekarang harus mengikuti pola realitas, water that shape the side. As always.

     Aku telah terbentuk, dipilin sedemikian rupa hingga terciptalah konsep konsep dalam cangkang kepala. Aku memandang dunia secara pesimis dan seadanya tak lain karena hal hal pesimis itu selalu relevan. Hal yang tak pernah membuatku jatuh, yang tak pernah menjajikanku akah gemerlap semu, menyajikanku dunia secara apa adanya. kemungkinan terburuk selalu menjadi sandaran yang baik. Aku sudah terjatuh dengan berbagai sisi untuk mendarat. Aku tak pernah meminta banyak, posisiku hanya ingin dimengerti. Tak lebih.

     Aku terbangun, dibangunkan pagi yang tak lama lagi berakhir. Apakah hari ini adalah jawaban untuk hari kemarin? pertanyaan yang berkesinambungan, menopang kelopak agar segera terbuka dan memastikannya. Siklus basic yang menjadi dasar hariku, dihiasi kejutan kejutan dari Tuhan, dihantui waktu agar terus berlari, dibimbing kewarasan untuk memastikan pilihan, didorong mimpi yang membukakan jalan, dibalut perasaan agar waspada, dan elemen elemen dalam relitas tersebut layak tetris yang bertumpukan. Saling mengisi sudut agar tak rongga. Siapa tau jawaban itu akan datang dalam bentuk bom yang akan menghancurkan sisi yang berongga. Mengisinya dengan bentuk yang pas. 

     Mungkin aku hanya terlalu muda untuk mengerti, dan waktu akan menghias keriput di muka, lekuk baru di otak, dan jawaban di genggaman tentunya. Aku telah melihat ratusan kali, dimana mimpi ditinggalkan, ideologi dibengkalaikan, idealisme ditanggalkan. Mereka punya alasan untuk mengalah, karena relevansi akan berubah ketika kita mencapai level tertentu. Aku akan memastikannya sendiri.