tak lebih dari sekedar nalar

Kita tak pernah tau

Minggu, 20 Oktober 2013

     Hey, aku tak pernah mengerti bagaimana harus mensikapi hari esok dengan pasti. Seperti rasa takut saja yang pertama terasa bila aku sudah keluar dari jendela mimpi dan terbangun. Jam tak pernah salah menunjukkan waktu, dan sekarang waktunya menagih konsekwensi. Lihat betapa kacaunya aku dengan hal hal yang kubuat rumit sendiri, maaf aku hanya ingin melaukan yang terbaik. Ruh, tubuh, maaf aku selalu gagal dalam bersinergi. Aku pengecut, ya! aku selalu merasa kuat dalam gelembung persepsi yang kubangun satu persatu. Mulai terasa sepi disini, dingin dan pembicaraan ini kadang tak membuat tubuhku menghangat. Aku meracau, bermonolog dalam ruang stresku yang pengap, meyakinkan setiap orang jika aku bisa berjalan sendiri, tapi ternyata tidak. Aku tenggelam dalam ruang nyamanku. Dan sikap apakah yang seharusnya kuambil? terlalu sulit dimengerti, masalah pantas atau tidak itu membuat semua orang merasa repot memecah cangkang. Hey, aku yang selalu pesimis dengan tameng realistis ini sedang melakukan pertambaan dan pengurangan. Memaknai hidup, berpikir vertikal dan horizontal. meracau dihujani guguran mimpi dan senyawa masa lalu.
     Baiklah, kau dapat berbicara sekarang, tapi jangan tentang apa yang kau punya. Sebutkan saja apa yang bisa kau bagikan. Bukan seberapa banyak yang kau punya, tapi seberapa banyak yang bisa kau bagi. Kau bisa menyelami diriku sekarang, aku adalah lautan lepas. Kau tak perlu berpakaian, karena kau berkelana dengan ruh bukan tubuh. Selami dengan cara yang tak pernah kau lakukan sebelumnya. Perjalanan yang lebih dalam. Terasa mengenali personalmu yang lain. 

    Dan dari sekian pilihan dan hal yang kita jalani. kita tak pernah tau. Aliran sungai perjalana yang bermuara di tempat yang kita tak pernah tau, menyelam kedasar lautan yang gelap dan kita tak pernah tau. Bersedimen dalam kikisan jam pasir yang kita tak pernah tau. Ketakutan akan hari esok yang kita tak pernah tau, mimpi acak tentang ingatan yang datang setiap malam, pertemuan, perbubahan, kematian. Berspekulasi, manusia tak pernah tau.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar