tak lebih dari sekedar nalar

Teruntuk: Pertanyaan yang kujawab sendiri

Senin, 26 Mei 2014

     Pikiranku selalu mengajukan pertanyaan atas apa yang terjadi di sekelilingku, dan aku harus membujuknya paham dan puas dengan jawaban yang kubuat seadanya karena ya memang begitu seharusnya. Hatikupun harus puas dengan jawabanku, yang juga seadanya. Karena basic dari jawaban itu untuk meredam keresahan, masalah ataupun stress yang berkepanjangan. Seperti mantra pengusir hantu, padahal hantu hantu itu tak pernah hilang. Seperti kadang aku membuat statement "Aku akan membuat kesempatanku sendiri bila memang tak ada", stimulan yang cukup baik untuk beberapa hari kedepan sebelum di injak injak realitas. "Siapa yang butuh pacar, aku punya banyak teman bla bla bla" dan tak berselang lama fuckedup haha. Kadang aku membuat konsep konsep pelarian yang semu, pembenaran pembenaran yang menjinakkan hati dan pikirku sesaat. Pada dasarnya aku sudah berusaha. Aku merasa beruntung, dan merasa sial di sisi yang lain. Aku hanya perlu bersyukur (stimulan dosis dogmatis haha). Seperti pepatah, jika tidak ada pundak untuk bersandar, masih ada lantai untuk tepar. Aku adalah prototype dari remaja abad iniiiiii.. hahaha... yang fuked up tentunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar