tak lebih dari sekedar nalar

Aktualisasi Diri

Kamis, 12 Juni 2014

     Sebenarnya ini adalah keuntungan sebagai pelaku desain grafis, keuntungan atas informasi client terhadap produk dan materi desain yang harus disusun. Informasi yang mengalir secara tidak sengaja itu adalah hal yang kusukai karena basic-nya tetap pengetahuan, dalam bentuk apapun itu. Kali ini aku mendapat job membuat mind map tentang tokoh psikologi bernama Abraham Maslow, materi dikirim lewat email setelah telpon ke 8 yang baru kuangkat karena sedang mengerjakan lettering pada white board, sementara HP ter set dalam posisi silent haha. Aku menjanjikan besok pagi untuk proofing, sementara deadline di hari berikutnya. Aku cuma punya waktu 36 jam. Dan accidently, malam dimana debat capres dilaksanakan itu saya tertidur karena kelelahan, proofing yang kujanjikan mundur menjadi sore harinya haha. Tapi target tercapai karena langsung di ACC. Namuh hal paling mengasyikkan selain menggambar tokohnya adalah membaca materi yang dinamakan Aktualisasi Diri, tentang bagaimana Maslow meneliti biografi tokoh yang dianggap telah mencapai aktualisasi diri dan menyimpulkan poin poin yang sangat keren.  


     Dia menganalisis riwayat hidup, karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dan Eleanor Roosevelt.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, Maslow menyusun sejumlah kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi :

1. Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.
2. Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
3. Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
4. Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.
5. Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima anda apa adanya ketimbang berusaha mengubah anda.
6. Rasa humor yang ‘tidak agresif’ (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.
7. Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)
8. Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.
9. Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience.
NB: Peak experience atau sering disebut juga pengalaman mistik adalah suatu kondisi saat seseorang (secara mental) merasa keluar dari dirinya sendiri, terbebas dari kungkungan tubuh kasarnya.
Pengalaman ini membuat kita merasa sangat kecil atau sangat besar, dan seolah-olah menyatu dengan semesta atau keabadian.
Ini bukanlah persoalan klenik atau takhayul, tetapi benar-benar ada dan menjadi kajian khusus dalam Psikologi Transpersonal, suatu (klaim) aliran keempat dalam ilmu psikologi setelah psikoanalisis, behaviorisme, dan humanisme.
 (http://www.praswck.com/aktualisasi-diri-menurut-abraham-maslow)

So, apakah Anda tertarik untuk ber-aktualisasi dan meningkatkan kualitas hidup. Living the life to the fullest :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar