Sherlock menganalisa mayat dengan sebegitu detail dan telatennya, sementara Dr. Watson dan Inspektur Lestrade menanti konklusi dari Sherlock sembari menebak nebak kesimpulan apa yang ada di dalam pikiran seorang Sherlock Holmes. Selesai Sherlock menganalisa, giliran Watson yang mencoba membaca mayat tersebut. Dan semua yang dikatakan Watson atas observasi mayat itu terlalu biasa menurut Sherlock, dia malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Lestrade sewot menanti informasi apa yang di dapat oleh Sherlock setelah analisa tersebut. Sherlock pun mulai menjabarkan apa yang terjadi pada mayat tersebut, dari kondisi fisik hingga pakaian. Sebuah pernyataan yang tak pernah terpikir oleh orang lain mungkin. Selesainya menjabarkan, muncullah kata dari Watson seperti biasa, pujian yang selalu Sherlock apresiasi karena hanya Watson seorang lah yang bisa menghargai konklusi sherlock yang mind blowing.
Dr. Watson :
Excellent!
Sherlock : meretricious *sahut Sherlock*
Inpectur Lestrade : and happy new year.. *cletuk Lestrade*
Tidak ada tawa
samasekali dalam scene lawakan tersebut, tetapi mendengar percakapan tersebut
pikiranku langsung melesat jauh. “Meretricious ( hal yang kelihatan indah namun
tak berharga)” dan “happy new year”, keindahan
yang tidak berharga dan awal tahun. Aku merasakan sebuah aura yang lain
dari penggabungan kata tersebut. Sebuah kehilangan esensi yang tajam, sebuah
kemegahan yang dibangun dari gelembung soda dan sendawa. Menukik jauh ke bawah
layak merpati pos yang telah sampai pada alamat tujuannya, menilik diriku
sendiri yang terbang tinggi diangkat angan dan khayal. Akhir akhir ini malah
dihantui berbagai macam hal. Tahun yang baru dengan masalah lama yang belum ter-solving secara clear. Atau memang aku membawa utopia tahun lalu yang seharusnya
sudah luntur hanyut besama penghujan Desember?.
Tetapi utopia itulah yang terkadang membuatku tetap merasa hidup, seperti cerita dalam film film Mizaki yang menawarkan mimpi, imaji. Mereka tak pernah menua dan tetap hidup. Pun aku yang telah mengorbit selama 21 tahun. Baru tahun tahun terakhir ini merasa sadar dan waras.
Aku tak pernah terdidik secara yang benar benar dituntun cara melakukan ini dengan begini, stepnya begini. Terutama dalam keluarga yang bisa dikatakan kurang referensi. Maksudku kurang referensi adalah dengan keterbatasan pendidikan / ruang lingkup pergaulan / sudut pandang. Jika aku berbicara mengenai posisiku dalam realitas mereka tak akan mengerti, karena jawaban klasik seperti "aku juga pernah muda sepertimu", tapi relevansi jaman telah banyak berubah, coba analisa dan komparasi elemennya. Bagaimana laju jaman kala itu dan abad ini. Jika mengatakan hal yang sudah pasti dan terlewat siapa yang tidak bisa? aku tak pernah menuntut apapun karena aku mengerti posisi mereka. Aku juga berharap mereka tak menekanku dalam berbagai hal. Aku hanya ingin dimegerti posisiku. Disinilah nilai referensi itu dipertanyakan dan ketakutanku mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi. Seperti bagaimana masa depan, bagaimana peningkatan kualitas, bagaimana cara tetap relevan. Aku mulai curiga kesalahpahaman nilai "pasrah" dan "tawakal". Mendengarkan mamah Dedeh tiap pagi hanya akan semakin menuntutku melakukan banyak hal. Aku tak melihat perubahan yang signifikan. Aku mempunyai perjalanan suciku sendiri, perang yang tak terlihat.
Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya aku yang terlalu rewel karena terlalu banyak melihat referensi. Paling tidak aku mengeri jika dunia adalah sebuah buku dengan halaman yang sangat banyak. Aku membaca sifat dan pernak perniknya. Dan jika tinta yang digunakan untuk menuliskan takdirku sudah habis dan tak ada sisa untuk membenahinya. Aku hanya perlu berdansa di atasnya. Setidaknya stress yang membuatku terjaga adalah anugerah pula. Dan semua hal yang menguatkanku adalah mukjizat. Aku hanya harus terus berjalan, walau kadang lupa dengan statementku sendiri dan harus memukuli mukaku sendiri sebagai hukumannya. Tidak ada yang menang dan kalah, jika memang posisinya begitu. Kita hanya perlu saling menghargai posisi. Bukankah roda yang berputar itu sebuah kepastian? persepsi waktu yang menjadi hantu, maukah sesekali kau berdansa denganku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar