Kala itu aku masih di bangku kelas 4 SD kisaran tahun 2004, masih terasa sisa demam F4 (Meteor Garden) yang sempat menjadi standar gaul kala itu. Rambutku juga masih belah tengah seperti teman teman yang lain juga. Agar seperti Toming se katanya, tapi aku tak pernah merasa fit dengan potongan itu. Hanya saja predikat gaul harus mengambil resiko haha. Masa masa pencarian dari anak ingusan yang ingin diakui, ingin mendapat lirikan perhatian, melakukan hal bodoh yang kupikir itu brarti. Tetapi ini adalah masa masa penting tentang bagaimana aku masuk ke dalam scene dan ikut serta meramaikan gerakan underground sekala kecil. Mungkin ini adalah rasa penasaran dan ketertarikan pribadiku pada hal kecil, ataupun ketidaksengajaan. Tentang definisi yang sedikit demi sedikit terkumpul dan Tuhan memberiku jalan untuk semakin dekat dan dekat. Agar aku mengerti apa yang kucari, dan menyimpulkan sendiri.
(2004-2006)
Playstation 1 adalah permainan yang yang selalu dituju sepulang sekolah, tempatnya agak jauh dari sekolah jadi biasanya pulang dulu ganti baju terus jalan lagi, rumah saya ada di Pakualaman sedangkan tempat main playstation di daerah Sayidan.Mungkin 400 meter, ditempuh jalan kaki berdua dengan teman saya biasanya. Namanya Deni, kami memiliki ketertarikan yang sama dengan olahraga ekstrem, seperti Skate dan BMX walau kala itu tak satupun dari kami yang memiliki papan atau sepeda BMX. Kami selalu melihatnya di Stadion Mandala, disana ada komunitas Skate dan BMX yang setiap sore kami tonton dengan kagum. Hingga bermain Playstation saja kami selalu memainkan permainan yang menyangkut olahraga ekstrem. Seperti Tony Hawk Pro Skater sampai Matt Hoffman pro BMX ada juga Dave Mirra dan 4X-treme yang tak begitu menarik karena game play dan trick nya yang kurang spesifik. Kami bermain Career, jadi selalu bergantian tiap misi. Bayarnya juga kita bagi 2. Tapi kadang kita bermain sendiri sendiri. Setiap pulang dari bermain PS kami selalu membayangkan GAP trick yang mustahil dan menirukan trick sambil menyebutkan nama trick seadanya.
Di pertigaan sebelum bioskop Permata, terdapat coretan coretan dengan spidol kaligrafi berukuran besar dan asing. Terdapat juga poster poster dari kertas bekas yang bergambar robot dan monster. Kami hanya melewatinya setiap hari, dan lama kelamaan menjadi rasa penasaran. Siapa yang membuat coretan dan gambar ini, aku tak tau apa itu Street Art apa itu Graffiti apa itu Tag Name apa itu Wheat Paste, yang aku tau hal itu cukup menarik dan akhirnya kusempatkan untuk mencopot beberapa gambar yang lumayan besar dan kutaruh di kamar dan depan rumah. Gambar kaleng spray Pylox dengan bom waktu yang melilit. That's cool!
Akupun ikut ikutan membuat dengan meniru gambar dan melakukan Tagging. Buku buku pelajaran, tembok kamar mandi sekolah, dan menempel gambar fotokopian di setiap kelas dengan lem Glukol saat istirahat lalu dimarahi dan ditanyai apa maksud dari tempelan tempelan yang kutempel diatas dinding dengan menaiki meja itu. Aku hanya tertawa kecut, lalu kucabuti semua gambar cepat cepat. Shit! ternyata adik kelas terlalu asing dengan tindakan itu hingga melaporkanku ke guru, atau aku yang terlalu bodoh menempelnya saat ramai hahaha. Tetapi itu secara tidak sadar membentukku hingga ingin memperlajarinya lebih dan menggambar adalah hobi baru yang tak pernah terpikir olehku dulu.
Warnet sudah ada tetapi aku tak tahu apa fungsi utamanya selain Game Online, mesin pencari Google saja masih terlalu asing ketimbang lalatx hahaha.
(2006-2009)
Hingga akhirnya aku telah lulus dari Sekolah Dasar dan memasuki Sekolah Menengah Pertama. Disini aku mengikuti saran kakak kelas dan sahabatku di SD dulu yang juga tertarik pada olahraga extreme dan Graffiti, namanya Fuad. Kami condong ke BMX, sepeda Fuad kala itu sudah cukup bagus. Fuad mengambil Flatland dan saya dengan sepeda hadiah lulus SD mengambil Street karena saya suka manufer dan kecepatan di jalan. Deni juga masuk SMP yang sama, dengan Wim Cyclenya dia bermain Street namun juga Flatland. Setiap sore kami latihan dan mempuyai komunitas sendiri. Kami bertemu banyak orang dan banyak pengetahuan baru. Graffti mulai merambah tiap anak muda tanggung yang sedang mencari dirinya di jalanan. Nick name bermunculan, dan memberanikan diri Bimbing di jalan. Kala itu resiko masin cukup tinggi, masyarakat Jogja sudah mengenal Mural dan Street Art lewat Apotik Komik dan Graffiti lewat YKILC (Yogyakarta Illegal Crew) dan beberapa crew yang akhirnya menjadi YORC (Yogyakarta Art Crime), namun konsep Graffiti yang ilegal ini, selalu bertentangan dengan masyarakat. Sebagus apapun kami menggambar tetap saja illegal dan disebut corat coret. Kalo kepergok syukur tidak dipukuli, bisa lari sangat baik. Atau suruh mengecat putih lagi tembok yang memang sudah kotor coretan geng. Kami selalu bersepeda BMX, dengan tas berisi kuas dan beberapa kaleng cat 1 KG. Kami jarang pakai Pylox karena terlalu mahal kala itu.
Game Marc Ecko's Getting Up: Contents Under Pressure muncul dan memberikan istilah istilah baru dalam perbendaharaan bahasa Graffiti. Dan momen momen besar muncul setelahnya. (bersambung)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar